Senin, 23 Januari 2017
rangkaian nyepi
RANGKAIAN HARI RAYA NYEPI
1. MELASTI
Ajaran Hindu tidak melulu memfokuskan diri pada evolusi bathin diri sendiri, tapi disisi lain juga berupaya menjaga keseimbangan tata ruang kosmik melalui upakara-upakara. Sehingga tidaklah heran banyak orang yang datang ke Pulau Bali kemudian merasakan vibrasi kedamaian yang kuat di pulau ini.
"Melasti ngarania ngiring prewatek dewata anganyutaken laraning jagat papa klesa letuhing bhuwana" [Lontar Sang Hyang Aji Swamandala]. Melasti adalah upakara penyucian alam semesta secara niskala. Untuk menghanyutkan penderitaan masyarakat [laraning jagat], menghilangkan penderitaan bathin [papa klesa] dan mengharmoniskan vibrasi energi negatif alam semesta [letuhing bhuwana].
Melasti
Upakara mapeed dalam melasti bertujuan menyucikan secara spiritual lingkungan desa dan sekitarnya. Penyucian ini dilakukan dengan menghadirkan pratima dan simbol-simbol suci [pratima adalah "linggih" atau titik pusat dari vibrasi energi suci alam semesta] dibawa berkeliling desa.
"Amet sarining amertha kamandalu ring telenging segara" [Lontar Sundarigama]. Kemudian pratima dan simbol-simbol suci ini dibawa ke laut [atau boleh juga di beji / pathirtan], untuk mengambil sari pati energi suci kehidupan dari tengah samudra atau dari beji / pathirtan [mata air suci]. Melasti berasal dari kata : "mala" [keletehan] dan "asti" [dilebur].
2. TAWUR [PECARUAN] DAN PENGRUPUKAN
Tawur atau pecaruan merupakan upakara pemarisuda butha kala [mahluk dengan kekuatan-kekuatan negatif di alam semesta]. Dengan penuh welas asih kita doakan para mahluk-mahluk bawah tersebut agar mereka bisa terlepas dari alam bhur dan dapat naik tingkat terlahir menjadi mahluk yang lebih baik. Atau paling tidak agar hubungan antara bhur loka [alam bawah] dan bvah loka [alam tengah] kembali somya [harmonis] dan tidak saling mengganggu satu sama lain.
"Amantukaken buta kala kabeh dan angunduraken sasab merana" [Lontar Sundarigama]. Ketika kita natab caru pabiakalan, itu adalah sebuah yajna yang bertujuan nyomia, mengembalikan sifat-sifat negatif bathin para bhuta kala kepada keharmonisan.
Ogoh-ogoh
Unsur-unsur kekuatan negatif adalah kekuatan Rajas dan Tamas yang bergejolak. Kekuatan yang bergejolak itu perlu diharmoniskan kembali. Prosesi pengerupukan adalah kekuatan yang bergejolak ini [yang diwujudkan], lalu kekuatan yang bergejolak ini dipralina [diwujudkan dengan dibakar], sehingga kembali harmonis. Rangkaian prosesi ini adalah mantra yang diwujudkan dalam bentuk fisik. Tujuannya agar lebih kuat, sehingga apa yang diharapkan dapat lebih mudah terwujud [tercapai tujuan].
Pralina
Dan prosesi pengerupukan ini juga memiki tujuan untuk mem-pralina seluruh kegelapan bathin yang ada pada semua mahluk, termasuk kegelapan bathin kita sendiri, sehingga menjadi harmonis. Dari sini terbukalah gerbang menuju keheningan.
3. NYEPI
Setelah penyucian alam semesta ini [bhuana agung], kita melanjutkan dengan penyucian diri [bhuana alit] di Hari Raya Nyepi, melalui kesempurnaan keheningan.
Hening
4. NGEMBAK GENI
Rangkaian terakhir dari perayaan Tahun Baru Saka. Mengakhiri tapa-brata-yoga-samadhi penyepian, yang kemudian kita lanjutkan dengan dharma shanti atau tirtayatra.
Di hari Ngembak Geni, baik bila kita dapat menutup rangkaian Hari Raya Nyepi ini dengan tirtayatra ke Pura Mangening, Tampaksiring. Pura Mangening [maha hening], yang didirikan pada Abad ke 10 M oleh Mpu Kuturan ini memiliki poros yang selaras dengan Hari Raya Nyepi. Pura ini juga adalah cakra mahkota dari rangkaian titik-titik pusat energi yang meliputi wilayah dari Tampaksiring sampai ke Sukawati di selatan.
Candi abad 10 M, Pura Mangening
Di Pura Mangening kita musti dahului dengan melukat di beji [pathirtan] disana, untuk membersihkan mala dan energi-energi negatif dari lapisan-lapisan badan [sarira] kita. Kemudian baru kita lanjutkan dengan sembahyang dan meditasi di utama mandala pura.
SELAMAT HARI RAYA NYEPI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar